Archive

Archive for November, 2008

You’ll Be In My Heart by Phil Collins

November 21, 2008 farahikha Leave a comment

Come, stop your crying, it will be all right
Just take my hand, hold it tight
I will protect you from, all around you
I will be here, don’t you cry

For one so small, you seem so strong
My arms will hold you, keep you safe and warm
This bond between us, can’t be broken
I will be here, don’t you cry

1-’CAUSE you’ll be in my heart
YES, you’ll be in my heart
From this day on, now and forever more

2-You’ll be in my heart
No matter what they say
You’ll be here in my heart, always

Why can’t they understand the way we feel?
They just don’t trust, what they can’t explain
I know we’re different but, deep inside us
We’re not that different at all
(repeat 1..AND)

Don’t listen to them, ’cause what do they know?
We need each other, to have, to hold
They’ll see in time, I know
When destiny calls you, you must be strong
I may not be with you, but you’ve got to hold on
They’ll see in time, I know, we’ll show them together

(repeat 1..BELIEVE ME..I’LL BE THERE)
(repeat 2..YOU’LL BE HERE IN MY HEART..I’LL BE WITH YOU)

Always, I’ll be with you
I’ll be there for you, always, always and always
Just look over your shoulder (3)
I’ll be there, always

Penyakit experiential feeling from over published subjectivity

November 14, 2008 farahikha 4 comments

By ikhwanabd

Diawali dengan SMS an dengan seorang temen deket…eh tiba-tiba dia ngirim pesen “pokoknya kalau dirimu poligami, aq ga mau jadi temenmu lagi…” (gw pikir, nikah aja blom….apalagi nambah)

Hhh….segitu menyakitkan kah poligami sampai kau harus meninggalkanku? Heehehe…sok kaya drama-drama aja ya…

Lalu kutanya balik, “Segitu buruknya gituh poligami? Kalau dibandingin ama cerai mana yang lebih buruk?”

Lalu ia pun lama tak jawab, dan akhirnya ia bales….entah lah untuk wanita itu mah sama2 menyakitkan…

Hmmm….lalu ku mikir-mikir…emang dia pernah dipoligami atau dicerai ya? Segitu bisa ngerasain…padahal dia jg blom pernah nikah, napa bisa bilang itu menyakitkan ya?

Akhirnya kupikir-pikir…dan muncullah pertanyaan-pertanyaan…

Temenku itu dari mana ya taunya kalau dua hal itu menyakitkan?

Sejak kapan ya dia tau rasanya dicerai atau dimadu?

Pernah ga ya dia langsung merasakan? Apa pernah dia punya pengalaman dicerai/dimadu?

Trus kulanjutin mikir lagi…kalau dia kagak pernah ngalamin, kenapa ya dia seolah tau rasanya?

Yang harusnya secara obyektif ya dia belom pernah ngerasain….

Lalu kulanjutkan mikir lagi…kalau menurutmu dicerai/dimadu itu menyakitkan, pernah ga kamu denger cerita para wanita yang bahagia saat dimadu? Atau bahagia saat dicerai?

Dan kembali kucoba tawarkan antitesa lagi…seandainya sedari dulu cerita-cerita di komik, film, lagu-lagu pop, berita-berita gosip ngeberitain kebahagiaan saat seorang perempuan dimadu…kira-kira apa ya yang akan dia pikirin?

Akhirnya lahirlah sebuah kesimpulan singkat…ternyata temenku ini merasakan apa yang namanya experiential feeling from over published subjectivity (naon deui yeuh baru kepikiran istilahnya)… ya kayanya dia (atau jg mungkin kita semua) udah terprogram oleh lingkungan kita…kalau diduain atau dimadu itu pastilah menyakitkan…..

Tapi masa sih ga mau dimadu, kalau seandainya yang memadu mu itu seorang juragan minyak dimana nanti kamu bakal diminta untuk nerima warisan ngelola salah satu perusahaannya

Masa sih kamu ngerasa sakit kalo dicerai sama seseorang yang udah nyiksa kamu selama berumah tangga

Masa sih….masa sih…masa sih….ternyata banyak ‘masa sih’ juga yang mengundang rasa bahagia juga khan?

So…kenapa ya sekarang semua rasa subyektivitas perasaan seseorang yang dipublikasi ke masyarakat oleh berbagai media ini selektif hanya memunculkan beberapa rasa (sakit) saja. Sehingga seolah semua perasaan itu sudah dialami oleh diri kita…akhirnya kena lah kita penyakit aneh itu…. experiential feeling from over published subjectivity

….seolah dicerai itu pasti sakit, seolah diduakan itu pasti mengiris hati, seolah tidak lulus kuliah itu akhir dari dunia, seolah nilai C itu aib….seolah nilai E itu pencoreng harkat martabat dan harga diri kita…(padahal khan bagus tuh, di transkripnya jadi ada vitamin C dan E, bagus untuk mencegah penuaan…hahahahha…..)

Yang padahal semua hal itu belum pernah kita alami, tapi hanya orang-orang tertentu yang mengalami dan kebetulan ia disorot oleh media…hhh….entah…apakah mereka itu = saya?? Saya = mereka??

Belajar Manajemen Ala Tukul

November 13, 2008 farahikha Leave a comment

February 25th, 2008 by ludzain

Belajar Manajemen Ala Tukul

If we did all the things we are capable of doing, we would literally astound ourselves (Thomas Alva Edison)

Konon dunia selebritis tanah air hanya mengenal dua jenis artis saja: cakep sekali atau sebaliknya. Kita tahu di sisi mana Tukul berada. Melihat atraksi Tukul, bisa dimaklumi jika orang segera teringat pada teori Darwin. Jika masih hidup, Charles Darwin boleh jadi akan merasa menemukan yang selama ini dicarinya. Penampilan Tukul bahkan terlihat lebih sempurna dari teori itu sendiri.

Tukul seperti terinspirasi oleh Darwin, bahkan mungkin menjadikannya sebagai guru spiritual. Jika Darwin mengatakan “survival of the fittest”, maka Tukul adalah aktor utamanya. Aksinya adalah gambaran ketatnya kompetisi di dunia entertainment yang mengharuskannya menciptakan ciri khas yang berdiferensiasi tinggi, agar tetap “survive” dan “fit” dengan tuntutan lingkungannya alias laku “ditanggap” orang.

Bagi penghayat kesadaran, Tukul telah mencapai tingkatan tertinggi kesadaran diri. Ia begitu leluasa menjaga jarak dengan dirinya sendiri. Alih-alih merasa rendah diri membandingkan dirinya dengan Primus atau Tom Cruise misalnya, Tukul dengan ringannya mengolok-olok dirinya sendiri. Seperti di Empat Mata, ia pun tidak berpretensi untuk menjadi host acara televisi yang serba rapi dan terukur, dan mengembalikan segala kebersahajaannya itu ke laptop. Singkatnya, Tukul mentransformasikan apa yang orang anggap sebagai kelemahan dan kekurangan menjadi sebuah kekuatan, dan mengeksploitasi kekuatan itu habis-habisan untuk meraih keberhasilan.

Fenomena Tukul memberi ilustrasi keunggulan pendekatan ”Fokus pada Kekuatan” dalam konsep manajemen. Penyusun strategi perencanaan organisasi modern mulai menggunakan cara berpikir dengan melihat sisi positif dari sumber daya yang dimiliki perusahaan sebagai kekuatan yang mendukung keberhasilan perusahaan di masa mendatang. Pendekatannya menggunakan dasar-dasar Appreciative Inquiry(AI).

AI berusaha menemukan hal-hal terbaik yang terdapat pada orang, organisasi, dan dunia di sekelingnya. Pendekatan yang dikembangkan pertama kali oleh David Cooperrider dan Suresh Srivastva ini tidak memandang organisasi sebagai suatu masalah yang harus dipecahkan melainkan sebuah misteri untuk diungkapkan. Prosesnya adalah memancing seluruh anggota organisasi membicarakan kisah-kisah keberhasilan organisasi secara antusias.

Teknik ini diaplikasikan oleh pendukung AI dalam metode SOAR . Kegiatannya melibatkan identifikasi kekuatan yang dimiliki dan mencermati kesempatan (opportunity) yang menguntungkan ketimbang memfokuskan pada masalah, defisiensi, kelemahan dan ancaman seperti biasa dilakukan dalam analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threat). Fokus bukan pada masalah dan upaya pemecahan masalah (problem solving) tetapi bagaimana menemukan kekuatan dan melakukan amplifikasi (pelipatgandaan) terhadapnya.

Dalam pendekatan AI, imajinasi menjadi kekuatan penting: bagaimana karyawan mengkhayalkan masa depan perusahaan akan menjadi kekuatan penentu keberhasilan perusahaan. Ini selaras dengan Byrne yang menyatakan Hukum Tarik-menarik (The Law of Attraction) yaitu bahwa pikiran positif akan menarik pikiran positif juga, kebaikan akan mengundang kebaikan, dan demikian sebaliknya.

Proses selanjutnya adalah menggunakan 4D: Discovery, Dream, Design, Destiny. Tahap Discovery adalah tahap pencarian yang tekun dan ekstensif untuk memahami ”apa yang terbaik” dan ”apa hal baik yang telah terjadi atau dikerjakan” sebagai inti positif organisasi. Tahap Dream berupa eksplorasi yang memberikan kekuatan mengenai ”apa yang mungkin”. Tahap Design melibatkan penentuan pilihan mengenai ”apa yang seharusnya dilakukan” dan tindakan yang mendukung pembelajaran dan inovasi. Tahap Destiny secara spesifik berfokus pada komitmen serta langkah ke depan baik secara personal maupun organisasi untuk mendorong inovasi yang “self-organized”, jalan menuju masa depan menjadi kenyataan.

Fokus pada Kekuatan juga mewarnai manajemen SDM. Konsep Strength-Based atau Talent-Based HR Management (TBHRM) menjadi alternatif atas Competency-Based HR Management (CBHRM). Pendekatan CBHRM berfokus pada pemetaan kesenjangan (gap) antara kompetensi yang seharusnya dimiliki seseorang dengan kompetensi aktualnya. Kesenjangan dianggap sebagai kelemahan. Serangkaian tugas dan pelatihan kemudian diberikan kepada karyawan untuk memperbaiki kelemahan itu. Ini berpotensi menegakkan benang basah.

Penelitian John Maxwell menunjukkan bahwa kesesuaian orang pada jabatannya (jobfit) ditentukan 80% oleh kekuatannya (strength, abilities, talents), 15% pada potensi yang masih bisa dilatih (trainable potential), dan hanya 5% pada kelemahannya (weakness). Dengan kata lain upaya perbaikan atas kelemahan seseorang hanya berkontribusi 5% bagi keberhasilannya melaksanakan pekerjaan.

Pengembang konsep Strength Based atau Talent Based berpendapat, manusia lahir dengan bakatnya masing-masing, yang merupakan kekuatan alamiah (in-born strength). Melalui pendidikan dan pengalaman, karunia itu berproses dan mengkristal hingga menjadi kekuatan (strength) atau talent. Tugas organisasi adalah menemukan kekuatan itu, mengembangkannya (amplifikasi) dan mendayagunakannya secara maksimal.

Tukul lebih advance dalam mempraktekkan Fokus pada Kekuatan. Ia bahkan menggunakan kelemahannya itu menjadi kekuatan berdaya jual tinggi. Jika ia berpikiran negatif pada dirinya sendiri dan mencoba menutupinya, kita mungkin tidak melihat kristalisasi keringatnya telah menyulap wong deso hingga memiliki rezeki kota.

Hidup terlalu singkat untuk disesaki dengan wacana keserbakekurangan dan disibukan dengan upaya menutupi kelemahan. Hidup menjadi berarti jika diisi dengan pendayagunaan kekuatan untuk pertumbuhan dan perkembangan.

Pendekatan Fokus pada Kekuatan menawarkan cara berdamai dengan apa yang kita sebut sebagai ”ketidaksempurnaan kehidupan”. Kita tidak dapat memaksakan semua kekuatan ada dalam satu bentuk/wujud. Kita perlu membiasakan diri hidup berdampingan dengan ketidaksempurnaan, memandang dunia apa adanya. Bahkan sejatinya semua yang ada di alam sudah sempurna seperti adanya, tidak ada yang perlu ditambahi atau dikurangi, kata Gede Prama. Fokus pada Kekuatan dengan demikian merupakan kehendak alam itu sendiri.