Archive

Archive for November 13, 2008

Belajar Manajemen Ala Tukul

November 13, 2008 farahikha Leave a comment

February 25th, 2008 by ludzain

Belajar Manajemen Ala Tukul

If we did all the things we are capable of doing, we would literally astound ourselves (Thomas Alva Edison)

Konon dunia selebritis tanah air hanya mengenal dua jenis artis saja: cakep sekali atau sebaliknya. Kita tahu di sisi mana Tukul berada. Melihat atraksi Tukul, bisa dimaklumi jika orang segera teringat pada teori Darwin. Jika masih hidup, Charles Darwin boleh jadi akan merasa menemukan yang selama ini dicarinya. Penampilan Tukul bahkan terlihat lebih sempurna dari teori itu sendiri.

Tukul seperti terinspirasi oleh Darwin, bahkan mungkin menjadikannya sebagai guru spiritual. Jika Darwin mengatakan “survival of the fittest”, maka Tukul adalah aktor utamanya. Aksinya adalah gambaran ketatnya kompetisi di dunia entertainment yang mengharuskannya menciptakan ciri khas yang berdiferensiasi tinggi, agar tetap “survive” dan “fit” dengan tuntutan lingkungannya alias laku “ditanggap” orang.

Bagi penghayat kesadaran, Tukul telah mencapai tingkatan tertinggi kesadaran diri. Ia begitu leluasa menjaga jarak dengan dirinya sendiri. Alih-alih merasa rendah diri membandingkan dirinya dengan Primus atau Tom Cruise misalnya, Tukul dengan ringannya mengolok-olok dirinya sendiri. Seperti di Empat Mata, ia pun tidak berpretensi untuk menjadi host acara televisi yang serba rapi dan terukur, dan mengembalikan segala kebersahajaannya itu ke laptop. Singkatnya, Tukul mentransformasikan apa yang orang anggap sebagai kelemahan dan kekurangan menjadi sebuah kekuatan, dan mengeksploitasi kekuatan itu habis-habisan untuk meraih keberhasilan.

Fenomena Tukul memberi ilustrasi keunggulan pendekatan ”Fokus pada Kekuatan” dalam konsep manajemen. Penyusun strategi perencanaan organisasi modern mulai menggunakan cara berpikir dengan melihat sisi positif dari sumber daya yang dimiliki perusahaan sebagai kekuatan yang mendukung keberhasilan perusahaan di masa mendatang. Pendekatannya menggunakan dasar-dasar Appreciative Inquiry(AI).

AI berusaha menemukan hal-hal terbaik yang terdapat pada orang, organisasi, dan dunia di sekelingnya. Pendekatan yang dikembangkan pertama kali oleh David Cooperrider dan Suresh Srivastva ini tidak memandang organisasi sebagai suatu masalah yang harus dipecahkan melainkan sebuah misteri untuk diungkapkan. Prosesnya adalah memancing seluruh anggota organisasi membicarakan kisah-kisah keberhasilan organisasi secara antusias.

Teknik ini diaplikasikan oleh pendukung AI dalam metode SOAR . Kegiatannya melibatkan identifikasi kekuatan yang dimiliki dan mencermati kesempatan (opportunity) yang menguntungkan ketimbang memfokuskan pada masalah, defisiensi, kelemahan dan ancaman seperti biasa dilakukan dalam analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threat). Fokus bukan pada masalah dan upaya pemecahan masalah (problem solving) tetapi bagaimana menemukan kekuatan dan melakukan amplifikasi (pelipatgandaan) terhadapnya.

Dalam pendekatan AI, imajinasi menjadi kekuatan penting: bagaimana karyawan mengkhayalkan masa depan perusahaan akan menjadi kekuatan penentu keberhasilan perusahaan. Ini selaras dengan Byrne yang menyatakan Hukum Tarik-menarik (The Law of Attraction) yaitu bahwa pikiran positif akan menarik pikiran positif juga, kebaikan akan mengundang kebaikan, dan demikian sebaliknya.

Proses selanjutnya adalah menggunakan 4D: Discovery, Dream, Design, Destiny. Tahap Discovery adalah tahap pencarian yang tekun dan ekstensif untuk memahami ”apa yang terbaik” dan ”apa hal baik yang telah terjadi atau dikerjakan” sebagai inti positif organisasi. Tahap Dream berupa eksplorasi yang memberikan kekuatan mengenai ”apa yang mungkin”. Tahap Design melibatkan penentuan pilihan mengenai ”apa yang seharusnya dilakukan” dan tindakan yang mendukung pembelajaran dan inovasi. Tahap Destiny secara spesifik berfokus pada komitmen serta langkah ke depan baik secara personal maupun organisasi untuk mendorong inovasi yang “self-organized”, jalan menuju masa depan menjadi kenyataan.

Fokus pada Kekuatan juga mewarnai manajemen SDM. Konsep Strength-Based atau Talent-Based HR Management (TBHRM) menjadi alternatif atas Competency-Based HR Management (CBHRM). Pendekatan CBHRM berfokus pada pemetaan kesenjangan (gap) antara kompetensi yang seharusnya dimiliki seseorang dengan kompetensi aktualnya. Kesenjangan dianggap sebagai kelemahan. Serangkaian tugas dan pelatihan kemudian diberikan kepada karyawan untuk memperbaiki kelemahan itu. Ini berpotensi menegakkan benang basah.

Penelitian John Maxwell menunjukkan bahwa kesesuaian orang pada jabatannya (jobfit) ditentukan 80% oleh kekuatannya (strength, abilities, talents), 15% pada potensi yang masih bisa dilatih (trainable potential), dan hanya 5% pada kelemahannya (weakness). Dengan kata lain upaya perbaikan atas kelemahan seseorang hanya berkontribusi 5% bagi keberhasilannya melaksanakan pekerjaan.

Pengembang konsep Strength Based atau Talent Based berpendapat, manusia lahir dengan bakatnya masing-masing, yang merupakan kekuatan alamiah (in-born strength). Melalui pendidikan dan pengalaman, karunia itu berproses dan mengkristal hingga menjadi kekuatan (strength) atau talent. Tugas organisasi adalah menemukan kekuatan itu, mengembangkannya (amplifikasi) dan mendayagunakannya secara maksimal.

Tukul lebih advance dalam mempraktekkan Fokus pada Kekuatan. Ia bahkan menggunakan kelemahannya itu menjadi kekuatan berdaya jual tinggi. Jika ia berpikiran negatif pada dirinya sendiri dan mencoba menutupinya, kita mungkin tidak melihat kristalisasi keringatnya telah menyulap wong deso hingga memiliki rezeki kota.

Hidup terlalu singkat untuk disesaki dengan wacana keserbakekurangan dan disibukan dengan upaya menutupi kelemahan. Hidup menjadi berarti jika diisi dengan pendayagunaan kekuatan untuk pertumbuhan dan perkembangan.

Pendekatan Fokus pada Kekuatan menawarkan cara berdamai dengan apa yang kita sebut sebagai ”ketidaksempurnaan kehidupan”. Kita tidak dapat memaksakan semua kekuatan ada dalam satu bentuk/wujud. Kita perlu membiasakan diri hidup berdampingan dengan ketidaksempurnaan, memandang dunia apa adanya. Bahkan sejatinya semua yang ada di alam sudah sempurna seperti adanya, tidak ada yang perlu ditambahi atau dikurangi, kata Gede Prama. Fokus pada Kekuatan dengan demikian merupakan kehendak alam itu sendiri.