Archive

Archive for the ‘Good Parent’ Category

Penyakit experiential feeling from over published subjectivity

November 14, 2008 farahikha 4 comments

By ikhwanabd

Diawali dengan SMS an dengan seorang temen deket…eh tiba-tiba dia ngirim pesen “pokoknya kalau dirimu poligami, aq ga mau jadi temenmu lagi…” (gw pikir, nikah aja blom….apalagi nambah)

Hhh….segitu menyakitkan kah poligami sampai kau harus meninggalkanku? Heehehe…sok kaya drama-drama aja ya…

Lalu kutanya balik, “Segitu buruknya gituh poligami? Kalau dibandingin ama cerai mana yang lebih buruk?”

Lalu ia pun lama tak jawab, dan akhirnya ia bales….entah lah untuk wanita itu mah sama2 menyakitkan…

Hmmm….lalu ku mikir-mikir…emang dia pernah dipoligami atau dicerai ya? Segitu bisa ngerasain…padahal dia jg blom pernah nikah, napa bisa bilang itu menyakitkan ya?

Akhirnya kupikir-pikir…dan muncullah pertanyaan-pertanyaan…

Temenku itu dari mana ya taunya kalau dua hal itu menyakitkan?

Sejak kapan ya dia tau rasanya dicerai atau dimadu?

Pernah ga ya dia langsung merasakan? Apa pernah dia punya pengalaman dicerai/dimadu?

Trus kulanjutin mikir lagi…kalau dia kagak pernah ngalamin, kenapa ya dia seolah tau rasanya?

Yang harusnya secara obyektif ya dia belom pernah ngerasain….

Lalu kulanjutkan mikir lagi…kalau menurutmu dicerai/dimadu itu menyakitkan, pernah ga kamu denger cerita para wanita yang bahagia saat dimadu? Atau bahagia saat dicerai?

Dan kembali kucoba tawarkan antitesa lagi…seandainya sedari dulu cerita-cerita di komik, film, lagu-lagu pop, berita-berita gosip ngeberitain kebahagiaan saat seorang perempuan dimadu…kira-kira apa ya yang akan dia pikirin?

Akhirnya lahirlah sebuah kesimpulan singkat…ternyata temenku ini merasakan apa yang namanya experiential feeling from over published subjectivity (naon deui yeuh baru kepikiran istilahnya)… ya kayanya dia (atau jg mungkin kita semua) udah terprogram oleh lingkungan kita…kalau diduain atau dimadu itu pastilah menyakitkan…..

Tapi masa sih ga mau dimadu, kalau seandainya yang memadu mu itu seorang juragan minyak dimana nanti kamu bakal diminta untuk nerima warisan ngelola salah satu perusahaannya

Masa sih kamu ngerasa sakit kalo dicerai sama seseorang yang udah nyiksa kamu selama berumah tangga

Masa sih….masa sih…masa sih….ternyata banyak ‘masa sih’ juga yang mengundang rasa bahagia juga khan?

So…kenapa ya sekarang semua rasa subyektivitas perasaan seseorang yang dipublikasi ke masyarakat oleh berbagai media ini selektif hanya memunculkan beberapa rasa (sakit) saja. Sehingga seolah semua perasaan itu sudah dialami oleh diri kita…akhirnya kena lah kita penyakit aneh itu…. experiential feeling from over published subjectivity

….seolah dicerai itu pasti sakit, seolah diduakan itu pasti mengiris hati, seolah tidak lulus kuliah itu akhir dari dunia, seolah nilai C itu aib….seolah nilai E itu pencoreng harkat martabat dan harga diri kita…(padahal khan bagus tuh, di transkripnya jadi ada vitamin C dan E, bagus untuk mencegah penuaan…hahahahha…..)

Yang padahal semua hal itu belum pernah kita alami, tapi hanya orang-orang tertentu yang mengalami dan kebetulan ia disorot oleh media…hhh….entah…apakah mereka itu = saya?? Saya = mereka??

Mendidik Anak, Tegas Bukan Berarti Keras

September 24, 2008 farahikha Leave a comment

Wujud kasih sayang orang tua pada anak berbeda-beda di tiap keluarga. Ada yang melalui pemberian hadiah, perhatian secara penuh, atau berupa penerapan kedisiplinan yang keras. Walaupun berbeda, semuanya berujung pada satu hal, yaitu rasa cinta yang besar.

Sayangnya, wujud cinta ini kerap disalahgunakan, yaitu saat kekerasan mulai berbicara dalam mendisiplinkan anak. Mungkin hal ini pulalah yang banyak terjadi akhir-akhir ini, dimana anak menjadi korban kemarahan orang tua. Memang, adanya hukuman dalam proses pendisiplinan bisa memberikan hasil yang diinginkan. Tetapi, yang dibutuhkan di sini bukanlah makian atau pukulan tangan, melainkan sebuah sikap ketegasan dari orang tua.

Dalam kehidupan sehari-hari, ada beberapa tipe orang tua yang bisa ditemui. Pertama adalah tipe otoriter, yang cenderung memposisikan anak sebagai “anak buah” dan orang tua adalah “atasan” yang harus selalu dipatuhi. Segala peraturan dari orang tua tidak boleh dibantah dan tidak ada kompromi untuk membuat aturan yang berlaku. Kedisiplinan memang tercipta, namun bukan berdasarkan rasa hormat tetapi hanya rasa takut. Padahal, sikap penghargaan dan rasa hormat pada orang tua merupakan suatu hal yang lebih penting.

Tipe kedua adalah permisif. Kebalikan dengan tipe otoriter, orang tua yang permisif cenderung membebaskan anaknya. Namun hal ini pun kerap kebablasan, sebingga anak bersikap semaunya. Tak jarang rasa hormat pada orang tua terkikis secara perlahan karena orang tua seakan tidak berani mengatakan “tidak” pada anaknya. Tidak ada batasan dan hukuman secara tegas yang diberikan pada anak saat melakukan kesalahan. Akibatnya, anak cenderung tidak disiplin serta bersikap egois dan manja karena merasa orang tuanya akan terus berada di pihaknya.

Yang ketiga adalah tipe asertif. Tipe ini lebih mengetengahkan unsure demokrasi dalam mendidik anak. Peraturan dan larangan yang diberikan biasanya disertai alasan yang kuat dan terbuka terhadap sudut pandang anak. Anak dibuat mengerti bahwa setiap tindakan ada konsekuensi yang harus dijalani. Tanpa harus melalui bentakan atau pukulan, anak pun tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Orang tua memberikan batasan yang tegas tergadap setiap peraturannya dan bersikap konsisten. Bentuk kedisiplinan yang diinginkan pun tercipta.

Pada akhirnya, dengan komunikasi yang lancar antara orang tua dan anak, masing-masing pihak pun dapat mencapai bentuk kesepakatan untuk dijalani bersama. Jadi termasuk tipe orang tua yang manakah Anda?

Sumber : Koran Kompas

Melatih Anak Kebiasaan Mengelola Keuangan

July 4, 2008 farahikha Leave a comment

Banyak orang dewasa yang tidak tahu bagaimana cara mengelola
keuangan dengan benar, karena tidak diajarkan sejak kecil. Kebanyakan
orang tua mengaturkan keuangan anaknya, sehingga sang anak tidak
perlu tahu mengenai kebutuhan keuangannya. Padahal hampir semua
aspek kehidupan berhubungan dengan keuangan.

Bila Anda ingin anak Anda matang secara finansial pada saat dewasa,
Anda harus mulai membiarkan anak Anda untuk menangani sendiri
masalah keuangannya. Yang perlu Anda lakukan akan mengajarkan dan
memandu sang anak, agar terus menerapkan pengelolaan keuangan yang
baik. Dalam kesempatan ini akan saya bahas beberapa kebiasaan
keuangan yang sebaiknya diajarkan kepada anak Anda.

1. Membuat Anggaran Sederhana (Budgeting)

Budgeting adalah inti dari pengelolaan keuangan. Kebanyakan orang
mengalami kesulitan keuangan karena tidak menguasai budgeting.
Bagaimana cara mengajarkan budgeting kepada anak?
Read more…