Archive

Archive for the ‘Jelajah’ Category

Hari yang aneh…

October 23, 2009 farahikha Leave a comment

Kemarin mungkin menjadi hari yang aneh sekaligus indah buat ku. Mau tau ceritanya…pada suatu hari, aq baca sbuah pengumuman klo mo ada event yg seru di bandung. Langsung dong aq semangat buat nyiapin segala sesuatunya. 2 temenku jg dah nitip, sampe dibela2in bawa dedeknya (msh 3 bulan .red) buat janjian ama eke. Aq juga sampai izin ga masuk kantor juga.

Setelah tiba di bandung, eeehh aq lupa ga nyatet alamat gedungnya. huaaaawaaaaa….tanpa ragu dan tanpa malu, kutelponlah temanku buat ngasih tau alamatnya. Ternyata posisi gedungnya udah didepan mataku. Setelah aq melangkahkan kaki masuk kesana,..loh loh loh…koq ga ad tanda2 event yg mau aq ikutin ya??? o o … setelah selidik punya selidik, ternyata event itu GA ADAAAAAAAAAA……

Okay, tak papa. Aq pun tak kecewa karena sudah terbang ke bandung. Rencana langsung aq alihkan ke pilihan ke-2. Yuhuuu…mari shoping di yogya kepatihan, siapa tau ad diskon, soalnya berdasarkan pengalaman jaman dulu disana sering bgt ngasih diskon gede2an. Come on…langsung tancaaap.

Waaah bener ajah…begitu turun dari angkot, jantungku berdegup dengan kencangnya. Sipirili…lg ad diskon gede2an bow, 20-70% all item. xixixi…mari kita buka daftar belanjaan (titipan temen maksudnya). Mata ku mulai mengincar sana sini, wah seneng nya. Aq beli bebrapa hem, kaos, baju muslim dari harga 200 an jd 60 ribuan, waaah menyenangkan sekali…diskon 70%. Oya, mau liat sendal baru aq ga… Nih..dibawah (diskon juga loh, hahaha dasar wanita pemburu barang diskon), qeqeqe

DSC01976

Anggrek Hitam di Kalteng Perlu Dilestarikan

September 24, 2008 farahikha 2 comments

Palangkaraya, Kompas – Sebagai jenis flora endemic Kalimantan yang dilindungi, anggrek hitam di Kalimantan Tengah perlu dilestarikan. Dekade tahun 1980-an, anggrek ini masih mudah ditemukan di tepi jalan kawasan Marang, Kecamatan Bukit Batu, Palangkaraya.

“ Anggrek hitam merupakan sumber plasma nutfah yang memungkinkan dijadikan persilangan, “ kata Kepala balai Konservasi Sumber Daya alam (BKSDA) Kalimantan Tengah (Kalteng) Yohanes Sudarto, Jumat (20/1) di Palangkaraya.

Di Kalteng, anggrek hutan saat ini relative masih mudah dijumpai di hutan-hutan daerah aliran sungai Barito, semisal di Kabupaten Barito Utara, Barito Selatan, dan Barito Timur. Keberadaan anggrek hitam alam makin sulit ditemui di daerah yang telah dibuka untuk peruntukan lain, semisal pemukiman. Hasil survey yang dilakukan Perkumpulan Penyelamat Satwa dan Perkumpulan Pemuda Mandiri menunjukkan keberadaan anggrek hitam di kawasan sekitar Desa Merutuwu, Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah.

Anggrek hitam (Coelogyne pandurata) adalah jenis anggrek alam dari Kalimantan, berbau harum lembut, dan mekar antara 5-6 hari. Anggrek hitam ini banyak diminati sehingga keberadaaannya di alam terancam akibat pengambilan yang berlibihan. “Sedang dijajaki kemungkinan menetapkan kawasan tersebut menjadi kawasan konservasi anggrek hitam, yang sekaligus bermanfaat bagi masyarakat sekitar kawasan”, kata Direktur Eksekutif Perkumpulan penyelamat Satwa Kalteng Taufik.

Faktor pengancam kelestarian anggrek hitam antara lain perubahan atau rusaknya habitat tumbuh anggrek tersebut akibat penerbangan, konversi lahan untuk pertanian atau permukiman, pertambangan maupun terjadinya fragmentasi habitat. Apabila hal itu terjadi terus-menerus, anggrek hitam dikhawatirkan punah. Padahalm anggrek hitam termasuk jenis tumbuhan dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999 yang dikeluarkan pada 27 Januari 1999.

Menurut Taufik, dimungkinkan pula pengelolaan kawasan tersebut secara legal oleh Pemerintah Kabupaten Barito Timur. Pengelolaan dilakukan dengan menjadikan lingkungan tempat tumbuh anggrek hitam sebagai kawasan konservasi, pusat penelitian alam. Sebagai gambaran, kawasan hutan adapt Desa Murutuwu berbatasan dengan tiga desa. Di sebelah selatan Desa Telang, Siong, dan disebelah utara Desa balawa. Keempat desa ini disebut desa Paju Epat karena dalam sejarah merupakan tempat asal usul suku Dayak Maanyan.

Kawasan ini sejak turun-temurun menjadi milik Desa Murutuwu karena merupakan hutan adapt. Masyarakatnya memangaatkan hasil hutan untuk sekadar mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Selain itu, untuk kebutuhan upacara ritual adapt Kaharingan Ijame, uaitu pemnuatan raung atau kayu untuk menyimpan tulang yang dibakar.

Sumber : Koran Kompas

Sejarah Menara Eiffel

June 25, 2008 farahikha 6 comments

Struktur ini dibangun antara 1887 dan 1889 sebagai pintu masuk Exposition Universelle, Pameran Dunia yang merayakan seabad Revolusi Perancis. Eiffel sebenarnya berencana membangun menara di Barcelona, untuk Pameran Universal 1888, tapi para pihak yang bertanggung jawab di balai kota Barcelona menganggapnya aneh dan mahal, dan tidak cocok dengan kota itu. Setelah penolakan Rencana Barcelona, Eiffel mengirim drafnya kepada pihak yang bertanggung jawab untuk Pameran Universal di Paris, dimana ia membangun menaranya setahun kemudian, yaitu 1889. Menara ini diresmikan tanggal 31 Maret 1889, dan dibuka tanggal 6 Mei. Tiga ratus pekerja menggabungkan bersama 18.083 bagian besi benam (bentuk murni dari besi struktural), menggunakan dua setengah juta paku, dalam bentuk struktural oleh Maurice Koechlin. Resiko kecelakaan sangat besar, untuk pencakar langit modern yang tak biasa menara ini terbuka tanpa tingkat tengah kecuali dua platform. Tetapi, karena Eiffel mengambil sikap hati-hati, termasuk pengunaan takal bergerak, rel bantu dan layar, hanya satu orang yang meninggal.
Read more…