Mendidik Anak, Tegas Bukan Berarti Keras


Wujud kasih sayang orang tua pada anak berbeda-beda di tiap keluarga. Ada yang melalui pemberian hadiah, perhatian secara penuh, atau berupa penerapan kedisiplinan yang keras. Walaupun berbeda, semuanya berujung pada satu hal, yaitu rasa cinta yang besar.

Sayangnya, wujud cinta ini kerap disalahgunakan, yaitu saat kekerasan mulai berbicara dalam mendisiplinkan anak. Mungkin hal ini pulalah yang banyak terjadi akhir-akhir ini, dimana anak menjadi korban kemarahan orang tua. Memang, adanya hukuman dalam proses pendisiplinan bisa memberikan hasil yang diinginkan. Tetapi, yang dibutuhkan di sini bukanlah makian atau pukulan tangan, melainkan sebuah sikap ketegasan dari orang tua.

Dalam kehidupan sehari-hari, ada beberapa tipe orang tua yang bisa ditemui. Pertama adalah tipe otoriter, yang cenderung memposisikan anak sebagai “anak buah” dan orang tua adalah “atasan” yang harus selalu dipatuhi. Segala peraturan dari orang tua tidak boleh dibantah dan tidak ada kompromi untuk membuat aturan yang berlaku. Kedisiplinan memang tercipta, namun bukan berdasarkan rasa hormat tetapi hanya rasa takut. Padahal, sikap penghargaan dan rasa hormat pada orang tua merupakan suatu hal yang lebih penting.

Tipe kedua adalah permisif. Kebalikan dengan tipe otoriter, orang tua yang permisif cenderung membebaskan anaknya. Namun hal ini pun kerap kebablasan, sebingga anak bersikap semaunya. Tak jarang rasa hormat pada orang tua terkikis secara perlahan karena orang tua seakan tidak berani mengatakan “tidak” pada anaknya. Tidak ada batasan dan hukuman secara tegas yang diberikan pada anak saat melakukan kesalahan. Akibatnya, anak cenderung tidak disiplin serta bersikap egois dan manja karena merasa orang tuanya akan terus berada di pihaknya.

Yang ketiga adalah tipe asertif. Tipe ini lebih mengetengahkan unsure demokrasi dalam mendidik anak. Peraturan dan larangan yang diberikan biasanya disertai alasan yang kuat dan terbuka terhadap sudut pandang anak. Anak dibuat mengerti bahwa setiap tindakan ada konsekuensi yang harus dijalani. Tanpa harus melalui bentakan atau pukulan, anak pun tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Orang tua memberikan batasan yang tegas tergadap setiap peraturannya dan bersikap konsisten. Bentuk kedisiplinan yang diinginkan pun tercipta.

Pada akhirnya, dengan komunikasi yang lancar antara orang tua dan anak, masing-masing pihak pun dapat mencapai bentuk kesepakatan untuk dijalani bersama. Jadi termasuk tipe orang tua yang manakah Anda?

Sumber : Koran Kompas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s