Penyakit experiential feeling from over published subjectivity


By ikhwanabd

Diawali dengan SMS an dengan seorang temen deket…eh tiba-tiba dia ngirim pesen “pokoknya kalau dirimu poligami, aq ga mau jadi temenmu lagi…” (gw pikir, nikah aja blom….apalagi nambah)

Hhh….segitu menyakitkan kah poligami sampai kau harus meninggalkanku? Heehehe…sok kaya drama-drama aja ya…

Lalu kutanya balik, “Segitu buruknya gituh poligami? Kalau dibandingin ama cerai mana yang lebih buruk?”

Lalu ia pun lama tak jawab, dan akhirnya ia bales….entah lah untuk wanita itu mah sama2 menyakitkan…

Hmmm….lalu ku mikir-mikir…emang dia pernah dipoligami atau dicerai ya? Segitu bisa ngerasain…padahal dia jg blom pernah nikah, napa bisa bilang itu menyakitkan ya?

Akhirnya kupikir-pikir…dan muncullah pertanyaan-pertanyaan…

Temenku itu dari mana ya taunya kalau dua hal itu menyakitkan?

Sejak kapan ya dia tau rasanya dicerai atau dimadu?

Pernah ga ya dia langsung merasakan? Apa pernah dia punya pengalaman dicerai/dimadu?

Trus kulanjutin mikir lagi…kalau dia kagak pernah ngalamin, kenapa ya dia seolah tau rasanya?

Yang harusnya secara obyektif ya dia belom pernah ngerasain….

Lalu kulanjutkan mikir lagi…kalau menurutmu dicerai/dimadu itu menyakitkan, pernah ga kamu denger cerita para wanita yang bahagia saat dimadu? Atau bahagia saat dicerai?

Dan kembali kucoba tawarkan antitesa lagi…seandainya sedari dulu cerita-cerita di komik, film, lagu-lagu pop, berita-berita gosip ngeberitain kebahagiaan saat seorang perempuan dimadu…kira-kira apa ya yang akan dia pikirin?

Akhirnya lahirlah sebuah kesimpulan singkat…ternyata temenku ini merasakan apa yang namanya experiential feeling from over published subjectivity (naon deui yeuh baru kepikiran istilahnya)… ya kayanya dia (atau jg mungkin kita semua) udah terprogram oleh lingkungan kita…kalau diduain atau dimadu itu pastilah menyakitkan…..

Tapi masa sih ga mau dimadu, kalau seandainya yang memadu mu itu seorang juragan minyak dimana nanti kamu bakal diminta untuk nerima warisan ngelola salah satu perusahaannya

Masa sih kamu ngerasa sakit kalo dicerai sama seseorang yang udah nyiksa kamu selama berumah tangga

Masa sih….masa sih…masa sih….ternyata banyak ‘masa sih’ juga yang mengundang rasa bahagia juga khan?

So…kenapa ya sekarang semua rasa subyektivitas perasaan seseorang yang dipublikasi ke masyarakat oleh berbagai media ini selektif hanya memunculkan beberapa rasa (sakit) saja. Sehingga seolah semua perasaan itu sudah dialami oleh diri kita…akhirnya kena lah kita penyakit aneh itu…. experiential feeling from over published subjectivity

….seolah dicerai itu pasti sakit, seolah diduakan itu pasti mengiris hati, seolah tidak lulus kuliah itu akhir dari dunia, seolah nilai C itu aib….seolah nilai E itu pencoreng harkat martabat dan harga diri kita…(padahal khan bagus tuh, di transkripnya jadi ada vitamin C dan E, bagus untuk mencegah penuaan…hahahahha…..)

Yang padahal semua hal itu belum pernah kita alami, tapi hanya orang-orang tertentu yang mengalami dan kebetulan ia disorot oleh media…hhh….entah…apakah mereka itu = saya?? Saya = mereka??

4 thoughts on “Penyakit experiential feeling from over published subjectivity

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s